Press ESC to close

Masa Depan Perawatan Kesehatan Jiwa Berbasis Komunitas
 Tribute to Webinar Seri Kesehatan Jiwa #2: 
“Penguatan Peran Serta Masyarakat dalam Upaya Penanganan Masalah Kesehatan Jiwa di Indonesia”

Terjadi perubahan paradigma dalam pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia yang awalnya hospital-based, menuju pelayanan berbasis masyarakat atau community-based. Pemulihan berbasis komunitas dinilai lebih inklusif dan humanis karena melibatkan dukungan keluarga, komunitas, dan masyarakat. Dalam hal ini, pelayanan kesehatan jiwa telah bertransformasi dari kuratif dan rehabilitatif, kini juga telah menekankan aspek promotif dan preventif. Apakah pemulihan berbasis isolasi pada rumah sakit jiwa sudah tidak relevan?

Rumah sakit jiwa (RSJ) merupakan wadah pelayanan kesehatan spesialis bidang kejiwaan untuk memberikan pemulihan secara utuh bagi pasien dengan masalah jiwa. Prinsip pada RSJ adalah perawatan secara terapeutik berdasarkan diagnosis dari psikiater. Selayaknya pasien pada rumah sakit umum, pasien RSJ juga menjalani fase rehabilitasi seorang diri, tanpa pendampingan dari keluarga. Sehingga dalam prosesnya pasien rawan untuk merasa terkucilkan, terasingkan, dan merasa bahwa mereka telah “dibuang” oleh keluarganya. Pada beberapa kasus dan diagnosis seperti kecenderungan melakukan kekerasan, membutuhkan proses pemulihan seorang diri, sehingga untuk kondisi tersebut rumah sakit jiwa relevan untuk diterapkan.

Orang dengan masalah kejiwaan memiliki kesempatan yang sama dengan masyarakat sehat lainnya, yaitu hak untuk menjalani kehidupan yang layak, perlakuan yang sama, dan memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam suatu komunitas. Untuk itu penyelenggaraan pelayanan kesehatan jiwa berbasis masyarakat menjadi strategi inklusif yang ideal dengan melibatkan partisipasi keluarga, masyarakat, komunitas lokal, dan organisasi sosial dalam rangka menciptakan lingkungan pemulihan yang kondusif bagi orang dengan masalah kejiwaan. Dalam konteks ini, masyarakat atau komunitas merupakan promotor kesehatan jiwa sekaligus memastikan pencegahan kekambuhan gejala bagi pasien. Pelibatan ini juga bertujuan untuk mengurangi stigma, diskriminasi dan upaya pemasungan ilegal oleh sekelompok masyarakat.

Sejalan dengan program kemenkes bertajuk posyandu jiwa, dimana merupakan suatu wadah yang dijalankan dari, oleh, dan untuk masyarakat yang dibimbing oleh profesional dengan keterampilan, kemampuan, dan tekad untuk mengupayakan pemeliharaan kesehatan secara emosional, psikologis, dan sosial. Pada posyandu jiwa ini masyarakat atau komunitas bertindak sebagai kader yang bertugas melakukan pendataan keluarga, memberikan penyuluhan, melakukan kunjungan rumah atau home visit kepada orang dengan masalah kejiwaan, hingga mendorong kelompok pasien dengan masalah kejiwaan untuk mengikuti rehabilitasi dan kegiatan terapi kelompok. Keberhasilan layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas dapat tercapai berdasarkan aspek kolaborasi dan support yang baik dari klinisi, profesional, keluarga, masyarakat, serta organisasi dan komunitas lokal.


Penulis: Firda Alya (PKMK UGM)
Editor naskah: dr. Arida Oetami, M.Kes.

Sumber:

  1. Ningrum, D. D. C., & Zaini, M. (2023). Asuhan Keperawatan Jiwa pada Pasien dengan Isolasi Sosial: Menarik Diri di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang. Health & Medical Sciences, 1(1).
  2. Nabilah, A., Farkhan, A., & H., K. N. (2019). PENERAPAN TAMAN ISLAMI SEBAGAI SOLUSI DESAIN LINGKUNGAN PENYEMBUHAN LUAR PADA PERANCANGAN TAMAN REHABILITASI RUMAH SAKIT JIWA. Senthong, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Arsitektur, 2(2).
  3. Gunawan, P. V., & Resnawaty, R. (2022). ANALISIS PROGRAM POSYANDU JIWABERBASISCOMMUNITY CARE DI PROVINSI JAWA TIMUR. Share: Social Work Jurnal, 11(2), 122–130.