Press ESC to close

Batik Kawung: “Jiwa dan Terapi Seni” Memaknai Keteraturan dalam Kesederhanaan

Terdapat hubungan antara Batik Kawung dengan proses pengobatan jiwa, meskipun bukan dalam arti pengobatan medis secara eksplisit. Hubungan ini lebih bersifat filosofis dan terapeutik melalui aktivitas membatik itu sendiri. Motif batik kawung sendiri terinspirasi dari buah kawung (Aren atau kolang kaling) yang banyak dijumpai di sekitar daerah Kulon Progo, itulah mengapa Batik Kawung menjadi khas daerah Yogyakarta. Menariknya, batik kawung termasuk salah satu dari tujuh jenis motif batik larangan, yaitu motif batik yang hanya boleh digunakan oleh para bangsawan istana, abdi dalam, dan keluarga keturunan raja pada era kemakmuran keraton. Namun, sejak pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX, motif ini diperbolehkan untuk digunakan oleh masyarakat umum.

Batik Kawung menyimpan makna filosofis yang mendalam pada budaya Jawa. Kesederhanaan motifnya menyiratkan unsur spiritual yang secara umum melambangkan:

  1. Kesempurnaan, kemurnian, dan kesucian: Pola geometris yang berulang dan teratur diibaratkan sebagai buah kawung (aren/kolang-kaling) atau bunga lotus, yang melambangkan kesucian dan umur panjang.
  2. Keseimbangan dan harmoni: Polanya yang teratur mencerminkan pentingnya menjaga keseimbangan dan harmoni dalam hidup, baik antara manusia dengan Tuhan (Manunggaling Kawula Gusti), sesama manusia, maupun dengan alam semesta.
  3. Kesadaran diri dan kebijaksanaan: Motif ini mengingatkan manusia akan asal-usulnya, pentingnya mengendalikan hawa nafsu, dan terus berbuat kebajikan.
  4. Ketabahan dan rezeki berlimpah: Ada juga penafsiran yang mengaitkan motif Kawung dengan harapan akan hasil dari usaha keras dan rezeki yang berlipat ganda.

Filosofi-filosofi ini -yang menekankan keseimbangan batin, kesadaran spiritual, dan harmoni hidup- secara tidak langsung dapat mendukung kesehatan jiwa. Memahami dan merenungkan makna-makna ini dapat membantu seseorang mencari kedamaian batin dan perspektif positif dalam menghadapi kehidupan.

Membatik sebagai Terapi Seni (Art Therapy)

Lebih jauh lagi, proses membatik itu sendiri telah diakui sebagai bentuk terapi seni (art therapy) yang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan mental dan jiwa. Membatik dapat menjadi media penyaluran emosi untuk melepaskan emosi yang terpendam, terutama bagi mereka yang sulit mengungkapkan perasaan secara verbal. Aktivitasnya yang membutuhkan fokus, ketelitian, dan kesabaran dapat membantu mengalihkan pikiran dari kekhawatiran dan stres sehari-hari, mirip dengan efek meditasi. Motif batik yang kecil dan detail dapat melatih konsentrasi dan fokus. Menyelesaikan sebuah karya batik -sekecil apapun- dapat memberikan perasaan pencapaian, kepuasan pribadi, dan meningkatkan harga diri. Memilih pola, warna, dan mengikuti tahapan membatik dapat menstimulasi fungsi kognitif, seperti memori dan pemecahan masalah.

Proses kreatif dalam membatik, memungkinkan individu dapat mengakses dunia batinnya, memahami identitas, keinginan, dan nilai-nilai diri. Kesabaran, ketertiban, pengulangan, dan kedisiplinan yang diperlukan dalam membatik memiliki kemiripan dengan praktik manajemen emosi dan mindfulness. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa terapi membatik memiliki potensi signifikan dalam regulasi emosi, mengurangi depresi, meningkatkan ketahanan mental, dan kesejahteraan sosial. Ini juga diterapkan pada berbagai kelompok, termasuk remaja hingga penyandang disabilitas mental.

Jadi, meskipun batik Kawung tidak secara langsung “mengobati” jiwa, makna filosofisnya yang mendalam dapat menjadi panduan spiritual untuk mencapai keseimbangan batin. Selain itu, aktivitas membatik -termasuk motif Kawung- dapat digunakan sebagai alat terapi seni yang efektif untuk mendukung proses pengobatan dan pemulihan jiwa, membantu individu dalam menyalurkan emosi, mengurangi stres, meningkatkan fokus, dan membangun harga diri.

Penulis: dr. Arida Oetami, M.Kes

Referensi:

  1. Hermandra.(2022). Motif Kawung Pada Batik Tradisional Yogyakarta: Kajian Semantik Inkuisitif. Ranah:Jurnal Kajian Bahasa,11(2),378—388.
  2. Batik Kawung dan Filosofi Harmoni: Penyembuhan Diri dan Komunitas. 2024. Tantri Ida Nursanti. Diakses melalui Good News From Indonesia. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2024/11/22/batik-kawung-dan-filosofi-harmoni-penyembuhan-diri-dan-komunitas
  3. Wahida, A., Handayani, E. S., & Supriyadi, S. (2020). The Philosophical Values of Kawung Batik Motif in Contemporary Batik Painting. Mudra Jurnal Seni Budaya, 35(1), 76–82. https://doi.org/10.31091/mudra.v35i1.1001
  4. Mulyatama, D., & Novrizal. (2022). MAKNA MOTIF BATIK KAWUNG SEBAGAI IDE DALAM PERANCANGAN INTERIOR EL HOTEL ROYALE BANDUNG. Prodi Desain Interior, 1(1).
  5. Widayanti, F. M., & Handayani, T. (2024). Nilai Spiritual Manunggaling Kawula Gusti dalam Motif Batik Kawung. HUMANIKA, 31(2). https://doi.org/10.14710/humanika.v31i2.66404