Tingginya Angka Depresi Pada Usia Muda: Mereka yang Makin Rentan, atau Kita yang Makin Peduli?
Setidaknya 2 dari 100 gen Z di Indonesia mengalami depresi. Survey Kesehatan Indonesia tahun 2023 memvalidasi bahwa penduduk berusia 15-24 tahun menjadi prevalensi depresi tertinggi dengan persentase sebesar 2%. Secara global, depresi menyumbang angka bunuh diri remaja yang cukup banyak sekaligus menjadi penyebab kuat disabilitas di dunia. Tak heran, “Mental health matters” kerap menjadi isu utama yang melekat pada gen Z belum lama ini.
Depresi merupakan salah satu gangguan mental yang ditandai dengan kehilangan minat terhadap hal yang biasanya disukai, merasakan sedih yang berkepanjangan, dan adanya perubahan energi secara drastis. Pada stadium yang lebih lanjut, depresi dapat merujuk pada keinginan untuk bunuh diri. Setiap manusia umumnya memiliki kecenderungan untuk merasakan stress, dan depresi adalah bentuk manifestasi yang lebih serius dari stress tersebut. di Indonesia sendiri, depresi lebih banyak dialami oleh perempuan (2,8%) daripada laki-laki (1,1%), hal ini dipengaruhi oleh aktivitas hormon estrogen yang dominan pada perempuan.
Gen Z dengan riwayat keluarga pernah depresi, terpapar stressor sosial (bullying, hubungan yang tidak harmonis, peristiwa yang penuh tekanan), dan memiliki komorbid psikologis tertentu (memiliki penyakit kronis tertentu atau terdapat minoritas seksual), sangat rentan untuk terserang depresi. Sejatinya, terpaan konflik kehidupan selalu bisa menimpa siapa saja di usia berapapun, namun pada usia yang lebih muda proses ini menjadi suatu babak baru yang baru saja dipelajari, sehingga mekanisme penerimaan konflik akan lebih berat daripada usia dewasa yang sudah berpengalaman menghadapinya.
Boleh dikatakan, isu “mental health” yang ramai diperbincangkan turut meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan mental. Setiap orang semakin sadar bahwa memiliki kondisi mental yang sedang tidak baik adalah sesuatu yang tidak perlu ditakuti. Hal ini patut disambut baik sebagai upaya dalam mencegah stigma. Sehingga semakin banyak orang yang berani untuk speak-up, maka penanganan dan perawatan lebih dini semakin cepat untuk diupayakan.
Penulis: Firda Alya
Editor Naskah: dr. Arida Oetami
Referensi: