Press ESC to close

Rehabilitasi Berbasis Komunitas: Menggeser Perawatan Gangguan Jiwa dari Institusi ke Komunitas

Pendekatan perawatan gangguan jiwa selama ini masih banyak berpusat pada fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya rumah sakit. Model ini memang penting, terutama untuk penanganan fase akut pada gangguan jiwa berat seperti skizofrenia. Namun setelah pasien dikembalikan ke keluarga, keluarga tidak dapat menangani pasien dengan tepat serta lingkungan sekitar yang tidak mendukung seperti munculnya stigma dan diskriminasi dari tetangga. Kondisi ini dapat menyebabkan kekambuhan dan kembalinya pasien ke institusi rumah sakit. ketergantungan yang berlebihan pada layanan berbasis institusi sering kali tidak mampu menjawab kebutuhan jangka panjang pasien, terutama dalam aspek pemulihan fungsi sosial, kemandirian, dan kualitas hidup. Dalam konteks ini, pendekatan de-institutionalization menjadi semakin relevan, yaitu upaya menggeser perawatan dari institusi menuju komunitas sebagai ruang utama pemulihan.

Salah satu pendekatan yang banyak dikembangkan untuk mendukung proses tersebut adalah community-based rehabilitation (CBR) atau rehabilitasi berbasis komunitas. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh World Health Organization pada 1976, yang pada awalnya berfokus pada rehabilitasi berbasis rumah bagi penyandang disabilitas non-kejiwaan dengan melibatkan keluarga dan tenaga kesehatan di komunitas. Seiring waktu, CBR berkembang menjadi kerangka yang lebih luas untuk mendorong inklusi sosial penyandang disabilitas melalui kolaborasi lintas sektor termasuk bagi disabilitas psikososial (individu dengan skizofrenia, depresi, ansietas dan bipolar) (Khasnabis et al., 2010) .

Berbeda dengan pendekatan pembangunan yang bersifat top-down, CBR menekankan keterlibatan aktif masyarakat dalam seluruh proses program, mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Kekuatan utama pendekatan ini terletak pada keberlanjutan dan inklusivitasnya, yang dicapai melalui keterlibatan aktor lokal serta pendekatan multisektoral. Kerangka CBR bahkan telah dirumuskan dalam sebuah matriks yang mencakup lima komponen utama, yaitu kesehatan, pendidikan, penghidupan, sosial, dan pemberdayaan (gambar 1). Keempat komponen pertama merepresentasikan aspek lintas sektor, sementara komponen pemberdayaan menekankan pentingnya meningkatkan kapasitas individu, keluarga, dan komunitas dalam mendukung proses pemulihan (Khasnabis et al., 2010).

Gambar 1. New_Picture_2.png (Matrix komponen Community-based rehabilitation, sumber: www.socialservices.gov.lk )

Sejumlah bukti menunjukkan bahwa CBR merupakan pendekatan yang layak, dapat diterima, dan efektif, termasuk dalam penanganan gangguan jiwa berat seperti skizofrenia. Studi di berbagai negara berpenghasilan rendah dan menengah menunjukkan bahwa CBR dapat diterima oleh masyarakat dan memungkinkan untuk diimplementasikan, meskipun masih diperlukan penelitian dengan desain yang lebih kuat (Brooke-Sumner et al., 2015) . Selain itu, berbagai uji terkontrol dan meta-analisis menunjukkan bahwa CBR efektif dalam meningkatkan luaran klinis dan kualitas hidup penyandang disabilitas fisik maupun mental (Iemmi et al., 2015). Secara lebih spesifik, meta-analisis terhadap pasien skizofrenia menunjukkan bahwa CBR dapat menurunkan keparahan gejala, meningkatkan fungsi sehari-hari, serta mengurangi angka rawat inap ulang (Asher et al., 2017; Ye et al., 2023) .

Meski demikian, implementasi CBR dalam praktik sering kali masih berfokus pada aspek kesehatan saja. Studi menunjukkan bahwa dalam setting penelitian, intervensi CBR umumnya diberikan dalam bentuk pelayanan kesehatan seperti psikoedukasi atau terapi berbasis komunitas, dengan keterlibatan terbatas pada sektor lain . Hal ini berbeda dengan implementasi di dunia nyata, di mana program CBR cenderung lebih komprehensif dengan mencakup aspek sosial dan ekonomi, termasuk upaya pemberdayaan dan inklusi sosial (Butura et al., 2024) . Perbedaan ini menunjukkan bahwa potensi penuh CBR belum sepenuhnya tergambar dalam studi-studi berbasis intervensi yang terkontrol.

Pengalaman di Indonesia, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta, memberikan gambaran konkret mengenai implementasi CBR dalam konteks lokal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa intervensi berbasis CBR yang mencakup modul psikoedukasi dan pelatihan keterampilan sosial, yang diberikan oleh tenaga kesehatan, pekerja sosial, dan kader kesehatan di bawah supervisi psikiater, mampu meningkatkan kualitas hidup pasien skizofrenia di tingkat puskesmas (Puspitosari et al., 2019) . Intervensi psikoedukasi yang disesuaikan dengan konteks budaya lokal juga terbukti meningkatkan pengetahuan keluarga, keteraturan kontak dengan pelayanan kesehatan, serta kepatuhan minum obat (Marchira et al., 2017; 2018; Puspitosari & Rahma, 2024) .

Namun demikian, tantangan yang dihadapi penyandang gangguan jiwa di Indonesia tidak hanya terbatas pada aspek kesehatan. Stigma, diskriminasi dalam pekerjaan, praktik pemasungan, ketimpangan hukum, serta keterbatasan akses terhadap peluang ekonomi dan sosial merupakan bagian dari realitas yang dihadapi sehari-hari (Ikhtiar & Octavian, 2021) . Dalam konteks ini, pendekatan CBR yang hanya berfokus pada intervensi kesehatan menjadi tidak cukup. Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif yang juga menyasar dimensi sosial, ekonomi, dan pemberdayaan. Iammi et al (2015) dalam papernya memaparkan peran keseluruhan dimensi CBR diperlukan untuk mendukung peningkatan kualitas hidup dari penyandang disabilitas, termasuk disabilitas psikososial (Gambar 2).

Gambar 2. Causal-chain Dampak Program Rehabilitasi Berbasis Komunitas bagi Penyandang Disabilitas (Iammi et al, 2015)

CBR menawarkan kerangka yang tidak hanya mendukung proses de-institutionalization, tetapi juga mendorong transformasi sistem pelayanan kesehatan jiwa menjadi lebih berbasis komunitas dan inklusif. Tantangannya bukan lagi pada apakah CBR efektif, tetapi bagaimana memastikan implementasinya mencakup seluruh dimensi yang dibutuhkan oleh penyandang gangguan jiwa. Upaya ini memerlukan komitmen lintas sektor, integrasi dengan layanan kesehatan primer, serta keterlibatan aktif masyarakat sebagai bagian dari sistem pemulihan.

Penulis: apt. Ahmad Naufal, S.Sos., MHPM


REFERENSI

  • Asher, L., Patel, V., & De Silva, M. J. (2017). Community-based psychosocial interventions for people with schizophrenia in low and middle-income countries: systematic review and meta-analysis. BMC Psychiatry, 17(1), 355. https://doi.org/10.1186/s12888-017-1516-7
  • Brooke-Sumner, C., Petersen, I., Asher, L., Mall, S., Egbe, C. O., & Lund, C. (2015). Systematic review of feasibility and acceptability of psychosocial interventions for schizophrenia in low and middle income countries. BMC Psychiatry, 15(1), 19. https://doi.org/10.1186/s12888-015-0400-6
  • Butura, A.-M., Ryan, G. K., Shakespeare, T., Ogunmola, O., Omobowale, O., Greenley, R., & Eaton, J. (2024). Community-based rehabilitation for people with psychosocial disabilities in low- and middle-income countries: a systematic review of the grey literature. International Journal of Mental Health Systems, 18(1), 13. https://doi.org/10.1186/s13033-024-00630-0
  • Iemmi, V., Gibson, L., Blanchet, K., Kumar, K. S., Rath, S., Hartley, S., Murthy, G. V., Patel, V., Weber, J., & Kuper, H. (2015). Community‐based Rehabilitation for People With Disabilities in Low‐ and Middle‐income Countries: A Systematic Review. Campbell Systematic Reviews, 11(1), 1–177. https://doi.org/10.4073/csr.2015.15
  • Ikhtiar, H., & Octavian, Y. (2021). Description of Psychosocial Disability in Indonesia: Mapping of Strategic Issues.
  • Khasnabis, C., Motsch, K. H., Achu, K., Al Jubah, K., Brodtkorb, S., Chervin, P.,  & Coleridge, P. (2010). Community-Based Rehabilitation: CBR Guidelines.  World Health Organization.
  • Marchira, C. R., Puspitosari, W. A., Rochmawati, I., Mulyani, S., & Supriyanto, I. (2018). Managing information gaps on caregivers of psychotic patients in primary health settings of Y ogyakarta, Indonesia. Health Promotion Perspectives, 8(2), 163–166. https://doi.org/10.15171/hpp.2018.21
  • Marchira, C. R., Supriyanto, I., Subandi, S., Good, M. J. D., & Good, B. J. (2017). Brief interactive psychoeducation for caregivers of patients with early phase psychosis in Yogyakarta, Indonesia. Early Intervention in Psychiatry, 13(3), 469–476. https://doi.org/10.1111/eip.12506
  • Puspitosari, W. A., & Rahma, V. A. (2024). The effectiveness of psychoeducation by health workers at primary health center on medication adherence for people with schizophrenia. 090019. https://doi.org/10.1063/5.0218071
  • Puspitosari, W. A., Wardaningsih, S., & Nanwani, S. (2019). Improving the quality of life of people with schizophrenia through community based rehabilitation in Yogyakarta Province, Indonesia: A quasi experimental study. Asian Journal of Psychiatry, 42, 67–73. https://doi.org/10.1016/j.ajp.2019.03.022
  • Ye, X., Zeng, F., Wang, Y., Ding, R., Zhao, M., Zhu, D., & He, P. (2023). Effectiveness of Community-Based Rehabilitation Interventions on Symptoms and Functioning for People with Schizophrenia: A Systematic Review and Meta-Analysis. Psychiatric Quarterly, 94(3), 501–529. https://doi.org/10.1007/s11126-023-10029-8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *